Minggu, 23 Agustus 2009

PERKEMBANGAN SOCIAL STUDIES


Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial atau dalam bahasa asing disebut Social Studies berkembang efektif mulai tahun 1960-an lewat gerakan The Now Social Studies. Dalam perkembangan sebelumnya Social Studies dinilai tidak efektif dalam mengajarkan substansi dan pengaruh perubahan siswa. Oleh karena itu para ilmuwan yaitu sejarawan dan ahli-ahli ilmu sosial berstu padu bergerak meningkatkan Social Studies kepada taraf higher level of intellectual purcuit (Barr, dkk, 1977’42) yakni mempelajari ilmu sosial secara mendasar, maka dari hal tersebut dimulailah era modus pembelajaran Social Studies Education.

Pada akhir 1960-an, tercatat adanya perubahan dari orientasi pada disiplin akademik yang terpisah-pisah ke dalam suatu upaya untuk mencari hubungan interdisipliner. Dalam hal ini The Social Studies Curriculum Center at Syracuse“ mengidentifikasi 34 konsep dasar yang digali dari sejumlah ilmu sosial yang perlu diajarkan di sekolah.

Pada dasawarsa 1970-an, terjadi pertumbuhan Social Studies serupa dengan perkembangan sebelumnya denganhasilnya hampir semua proyek kurikulum menitikberatkan pada inquiry proses, decision making, value question dan student oriented problem. Akan tetapi para ahli menyimpulkan ternyata hasil studi mengenai kurikulum dan pembelajaran Social Studies belum banyak perubahan di sekolah. Perkembangan Social Studies tersebut tadi dicatat oleh Barr dkk.

Perkembangan Social Studies yang menjadikannya suatu bidang kajian tersebut melukiskan Social Studies pada dunia pendidikan telah menjadi dasar ontologi dari suatu sistem pe4ngetahuan yang terpadu, yang secara epistemologis telah mengarungi perjalanan pemikiran dalam kurun waktu 60 tahun lebih yang dimotori dan diwadahi oleh NCSS sejak tahun 1935. Di Indonesia, Social Studies atau yang di sebut Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) menjadi suatu konsep pembelajaran IPS dan banyak dipengatuhi oleh pemikiran Social Studies di Amerika Serikat yang dianggap sebagai salah satu negara yang memiliki pengalaman dan reputasi akademis dalam bidang tersebut. Perkembangan pemikiran mengenai pendidikan IPS di Indonesia ditelusuri dari alurperubahan kurikulum IPS dalam dunia persekolahan yang dikaitkan dengan konten pertemuan ilmiah dan penelitian yang relevan dalam bidang itu, yang secara sporadic dapat dijangkau oleh penulis. Konsep IPS untuk pertama kalinya masuk ke dalam dunia persekolahan terjadi pada tahun 1972 – 1973, yakni dalam Kurikulum Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) IKIP Bandung. Dalam Kurikulum SD 8 tahun PPSP digunakan istilah “Pendidikan Kewargaan Negara/Studi Sosial” sebagai mata pelajaran sosial terpadu. Dalam Kurikulum tersebut digunakan istilah Pendidikan Kewargaan Negara yang didalamnya mencakup Sejarah Indonesia, Ilmu Bumi Indonesia, dan Civics yang diartikan sebagai Pengetahuan Kewargaan Negara.

Sosiologi yang merupakan bagian dari Social Studies atau pengetahuan sosial adalah bidang ilmu yang membahas konsep sosial, yaitu tentang :

1. Perilaku sosial

2. Tindakan sosial dan

3. Interaksi sosial

Ketiga konsep tersebut merupakan perwujudan dari manusia sebagai makhluk sosial dalam melakukan hubungan dengan sesamanya.

Perilaku sosial adalah pola-pola tindakan yang merupakan perwujudan kepribadian untuk melakukan hubungan atau sosialisasi dengan sekelilingnya. Artinya manusia merupakan makhluk sosial yang di tuntut untuk melakukan hubunan atau interaksi dengan masyarakat sekitar untuk melangsungkan kehidupannya. Karena manusia pada dasarnya tidak dapat hidup sendiri sehingga perlu melakukan hubungan dengan orang lain atau masyarakat sekitarnya dalam memenuhi segala kebutuhan lahir maupun bathin. Dari perilaku sosial ini maka melahirkan suatu aturan atau norma yang mengatur tata cara kehidupan bermasyarakat demi tercapainya kedamaian dalam melakukan interaksi di masyarakat.

Sedangkan tindakan sosial adalah tindakan individu yang berorientasi terhadap arti bagi dirinya yang diarahkan kepada orang lain. Terdapat lima ciri pokok tindakan sosial, yaitu :

1. Tindakan yang memiliki makna subyektif

2. Tindakan nyata yang bersifat membatin sepenuhnya dan bersifat subyektif

3. Tindakan yang berpengaruh positif

4. Tidakan sosial yang selalu diarahkan pada orang lain untuk mendapat respon

5. Tindakan yang merupakan respon terhadap perilaku orang lain

Jika dilihat dari tingkat kemudahan untuk memahaminya, tindakan sosial dibedakan menjadi empat tipe, yaitu :

1. Rasionalitas instrumental (Zwerk Rational)

2. Rasionalitas yang berorientasi (Werkrational Action)

3. Tindakan afektif (Affective Action)

4. Tindakan tradisional (Traditional Action)

Konsep dasar sosial yang ketiga ialah interaksi sosial yang merupakan syarat utama dalam kehidupan sosial. Tanpa adanya interaksi sosial tidak akan terjadi kehidupan bersama-sama. Interaksi sosial dapat terjadi apabila terdapat tindakan atau perilaku sosial yang ditujukan pada orang lain sehingga muncul reaksi atau adanya aksi-reaksi antar dua orang atau lebih. Pendek kata terjadi kontak sosial atau komunikasi. Kontak sosial ini bisa berupa kontak langsung maupun tidak langsung. Dengan demikian, interaksi sosial dapat berlangsung antara :

1. individu dengan individu

2. individu dengan kelompok atau sebaliknya

3. kelompok dengan kelompok.

Suatu proses interaksi sosial dapat berlangsung berdasarkan atas beberapa faktor yang bergerak sendiri-sendiri secara terpisah namun bersamaan melahirkan suatu interaksi. Faktor tersebut ialah :

1. imitasi

2. Sugesti

3. Identifikasi

4. Simpati

Dalam kehidupam sosial terdapat beberapa bentuk interaksi sosial yang bersifat asosiatif dan disosiatif. Bersifat asosiatif yaitu kerja sama(co-operation) dan akomodasi (akomodation) sedangkan bersifat disosiatif adalah persaingan (competition), kontravensi dan pertentangan atau pertikaian (conflict).

Kerja sama (cooperation) disebut juga koperasi, yang terbentuk karena adanya kesadaran bersama akan suatu kepentingan yang dirasakan sehingga melahirkan suatu kesepakatan untuk bekerja sama untuk mencapai tujuan atau kepentingan. Sesuai dengan pelaksanaanya kerja sama dapat diklasifikasikan dalam lima bentuk, yaitu :

1. kerukunan yang mencakup gotong royong dan tolong menolong

2. bargaining atau perjanjian mengenai pertukaran barang dan jasa antar dua organisasi atau lebih.

3. ko-optasi (co-optation), yaitu proses penerimaan unsur-unsur baru dalam kepemimpinan atau pelaksanaan politik dalam suatu organisasi sebagai salah satu cara untuk menghindari terjadinya kegoncangan dalam stabilitas yang bersangkutan.

4. koalisi (coalition), yaitu kombinasi antara dua organisasi atau lebih yang mempunyai tujuan-tujuan yang sama.

5. joint-venture, yaitu bentuk kerja sama yang bergerak dalam pengusahaan proyek-proyek tertentu dengan keuntungan berdasarkan kesepakatan.

Sedangkan proses kerja sama dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu :

1. kerja sama spontan

2. kerja sama langsung

3. kerja sama kontrak

4. kerja sama tradisional.

Akomodasi merupakan upaya untuk memperlancar interaksi sosial dengan mengurangi pertentangan, konflik dengan menggalang kerja sama dan pencampuran kebudayaan yang terdapat dalam kehidupan masyarakat.

Persaingan merupakan bentuk interaksi sosial yang bersifat disosiatif dan mungkin juga asosiatif. Kedua tipe persaingan tersebut menghasilkan bentuk sebagai berikut :

1. persaingan ekonomi

2. persaingan kebudayaan

3. persaingan kedudukan, dan

4. persaingan ras.

Hal-hal tersebut diatas terjadi dalam suatu kehidupan masyarakat, sedangkan kehidupan bermasyarakat ini bisa mengalami perubahan-perubahan berdasarkan dimensi waktu dan unsur. Secara umum terdapat beberapa faktor yang mendasari terjadinya perubahan sosial yaitu faktor yang bersumber dari dalam (faktor internal) dan faktor yang bersumber dari luar (faktor eksternal) dari masyarakat.

Faktor internal disebabkan beberapa hal diantaranya ialah :

1. perubahan komposisi penduduk

2. perubahan baru

3. konflik sosial

4. pemberontakan

Faktor eksternal disebabkan hal-hal diantaranya ialah :

1. bencana alam

2. peperangan

3. pengaruh kebudayaan masyarakat lain.

Perubahan sosial dapat dibedakan ke dalam beberapa bentuk, yaitu :

  1. perubahan sosial yang lambat dan perubahan sosial yang cepat
  2. perubahan kecil dan perubahan besar
  3. perubahan yang direncanakan dan tidak direncanakan.

0 komentar:

Template by : kendhin x-template.blogspot.com